Use open source ? Then you're a pirate !

Tempat nongkrong. Diskusi bebas di luar topik.
Post Reply
User avatar
Dinamit
Contact:

Use open source ? Then you're a pirate !

Post 25 Feb 2010, 09:21

Hanya sekedar memberikan informasi untuk mengisi menjelang siang ini & membangkitkan semangat jiwa open source.


Rekan-rekan,

Sungguh keterlaluan IIPA (International Intellectual Property
Alliance), sebuah grup yang memayungi asosiasi perusahaan software,
penerbitan, film,televisi dan musik Amerika, ini. Mereka telah meminta
USTR (US Trade Representative) untuk memasukan indonesia, Brazil,
India ke "Special 301 watchlist" karena negara-negara ini menganjurkan
penggunaan perangkat lunak open source. Padahal justru karena kita
menghormati IPR maka kinta minta instansi pemerintah dan
perusahaan-perusahaan untuk berhenti menggunakan perangkat lunak
bajakan, dan menggantinya dengan open source.

Semakin jelas siapa yang ada di balik ini semua. Semoga pemerintah
kita tidak ciut dengan gertakan ini.

Salam hangat penuh semangat
Betti Alisjahbana
Ayo kita berhenti menggunakan software bajakan, gunakan perangkat
lunak open source

Use open source? Then you're a pirate!

February 24, 2010

This year the Special 301 watchlist targets governments that use open source

Posted by: Siobhan Chapman ShareThis

There's a fantastic little story in the Guardian today that says a US
lobby group is trying to get the US government to consider open source
as the equivalent to piracy.

The International Intellectual Property Alliance (IIPA), an umbrella
group for American publishing, software, film, television and music
associations, has asked with the US Trade Representative (USTR) to
consider countries like Indonesia, Brazil and India for its "Special
301 watchlist" because they encourage the use of open source software.

A Special 301, according to Guardian's Bobbie Johnson is: "a report
that examines the 'adequacy and effectiveness of intellectual property
rights' around the planet - effectively the list of countries that the
US government considers enemies of capitalism. It often gets wheeled
out as a form of trading pressure - often around pharmaceuticals and
counterfeited goods - to try and force governments to change their
behaviours."

So in effect, the annual Special 301 report names and shames countries
that the USTR believes do not do enough to protect US copyright,
patents and trademark laws abroad.

It is easy to see how pirated software can, in the eyes of USTR, hurt
companies like Microsoft. The IIPA claimed that business software
producers last year lost $126 million to pirates in the Philippines.

However, equating free software to piracy is just a little bizarre. As
Johnson rightly points out, no one could argue that Google, which
gives away many of its products free is anti-capitalist.

The IIPA has demonised Indonesia precisely because, according to IIPA,
the government is encouraging (not forcing) open source take up that
"weakens the software industry" and "fails to build respect for
intellectual property rights".

This seems absurd and works against the interests of the USTR. In
fact, encouraging free software could reduce software copyright
infringement and piracy amongst poorer countries.

The really interesting thing is that governments don't need to
legislate, but only be considering, the use of open source to be put
on the Special 301 watchlist. The Indonesian government, last year,
sent around a circular to all government departments and state-owned
businesses, pushing them towards open source. Now the IIPA has said it
should be on the watchlist.

By this token the British Government should be on the list, because it
has also pledged to encourage the use of open source (although whether
this promise goes beyond politicking is a matter of conjecture).

Organisations are able to submit comments to the USTR (the deadline
for submissions this year has already passed - it was 18 February).
Free Software Foundation is one such organisation that has criticised
the process. You can read the comments it submitted this year here,
but here is a highlight:

"Since the DMCA was passed in 1998, foreign governments have been
under increasing political pressure to enact similar legislation. Much
of that pressure comes from the United States Trade Representative.
This issue was a highlight of the 2009 Special 301 Report: failure to
implement the WIPO Internet Treaties were cited as a source for
concern in ten separate reports for countries on the Priority Watch
List or Watch List. Obligations to implement anti-circumvention
legislation have featured in at least eight bilateral Free Trade
Agreements that the U.S. has entered since then. The USTR also sought
to include such obligations in the proposed multilateral Free Trade
Area of the Americas agreement, and though little official information
is available, various reports suggest that the Anti-Counterfeiting
Trade Agreement currently includes similar provisions."

"All this happens despite the fact that such laws hurt the development
of free software, and have negative impacts on trade throughout
several industries. The effects are serious enough that the DMCA
remains controversial more than a decade after it came into effect,
and implementations of the EUCD face similar opposition. The USTR has
a responsibility to promote trade in a manner consistent with the
democratic principles our country was founded upon, and advocating for
anti-circumvention legislation abroad does not meet that criteria. The
USTR should cease using such laws as a negotiating stick in the
Special 301 Report."


User avatar
MasDjo
Contact:

Post 25 Feb 2010, 09:44

He..he..he.. kelihatannya seperti orang yg putus asa menghadapi kenyataan semakin meluasnya penggunaan Open Source Software :grin:


User avatar
offline

Post 25 Feb 2010, 10:22

lagi-lagi Amerika ingin berkehendak sesuka hati, belum tahu kekuatan Open Source Software kali. hajar aja Bleh!


User avatar
zarkasichan
Contact:

Post 25 Feb 2010, 13:02

ya itulah strategi dagang si orang yang mau kalah!!!
pengennya bersaing dengan fair play, di ujung jalan mereka malah menjatuhkan dengan ideologi...,stress kali produknya hampir termakan oleh eksistensi Open Source Software :grin:


User avatar
wigfranz

Post 25 Feb 2010, 19:55

Wah, org mo jual, mo kasih gratis, kan suka2 yg punya, iya nggak? Ngapain yg lain pd ribut2 ga jelas?
Kalo ga mau kehilangan nama, ya gratisin aja sekalian... Gitu aja kok repot!


User avatar
M3L3R
Contact:

Post 25 Feb 2010, 20:04

okelah kita memang mendukung opensource ...

tapi perlu tmn2 ketahui, bahwa teknologi opensource bukan satu-satunya solusi yang tepat,

karena dunia ini seperti hutan rimba yang penuh misteri dan banyak jebakannya, baik yang di sengaja oleh pengembangnya ataupun yang memang bukan disengaja ...


User avatar
deny26

Post 25 Feb 2010, 22:26

maksudnya bisa diperjelas lagi bro M3L3R? jebakan apa yang dimaksud?


User avatar
realsifo777

Post 26 Feb 2010, 01:28

sebenarnya aku dah bosan ngetik :D

software ada 3 dunia :
1. freesoftware = semua serba bebas (tidak gratis)
syaratnya ada 4. apa saja? cari di google dunk :D
stallman style gitou lhoe :D

2. propriertary = komercial = serba bayar
bill gate stall

3. opensource = freesoftware plus ada unsur propriertay juga walau dengan syarat yang banyak
9 syarat :D


User avatar
offline

Post 26 Feb 2010, 05:45

M3L3R wrote: tapi perlu tmn2 ketahui, bahwa teknologi opensource bukan satu-satunya solusi yang tepat,

kalo boleh tahu, solusi yang tepat apaan Bro?


User avatar
wigfranz

Post 26 Feb 2010, 20:38

Maksud Bro M3L3R, opensource itu bukan satu-satunya solusi yang tepat, berarti ada juga solusi tepat lainnya, yaitu beli yg ori... :]


User avatar
lisnux
Contact:

Post 26 Feb 2010, 21:04

yang penting kita bebas untuk menggunakan dan bermanfaat bagi kita, menurutku itu aja :grin:
Jadi majukan yang mempunyai semangat seperti itu ....


User avatar
ArzonLinus
Contact:

Post 26 Feb 2010, 21:24

M3L3R wrote:okelah kita memang mendukung opensource ...

tapi perlu tmn2 ketahui, bahwa teknologi opensource bukan satu-satunya solusi yang tepat,

karena dunia ini seperti hutan rimba yang penuh misteri dan banyak jebakannya, baik yang di sengaja oleh pengembangnya ataupun yang memang bukan disengaja ...
ingat bro, yang bayar juga banyak jebakan, masih sangat ga aman, virus dimana2, sistem operasinya juga masih tambal sulam (patching sana -sini), banyak kerentanan security yg ga ada habisnya jika di beberkan disini, kalo emang sama2 ga aman, ngapain repot2 ngeluarin duit segitu banyaknya.
[size:17pt]ADA YANG GRATIS KOK MILIH YANG BAYAR. GITU AJA KOK REPOT[/size]

Kita harus ingat kembali kata2 ini: [size:14pt]buatan manusia tidak ada yang sempurna[/size]


User avatar
lisnux
Contact:

Post 26 Feb 2010, 21:32

hohoho ... tenang bro, jangan emosi .... :)


User avatar
MasDjo
Contact:

Post 27 Feb 2010, 10:00

Apapun OS nya atau softwarenya pilih sesuai kebutuhan kita, yg penting legal biar barokah dunia akhirat.
Tetapi sesuai dg semamgat gotong-royong bangsa kita, sepertinya Open Source adalah pilihan terbaik ...:grin:


User avatar
M3L3R
Contact:

Post 28 Feb 2010, 11:44

lho, lho , kok ada yg emosi !! hahaha

santai aja bro ...

saya cuma meneruskan opini tentang KIAMAT SOFTWARE yang ada di majalah info linux edisi khusus ubuntu karmic bln januari kemarin ...

klo anda membacanya, pasti gag bakal salah paham kyk gini ... hehe ... sampai2 ada yg emosi !! wkwkwkwk,

coba berpikirlah secara bijak ... hehe :D


User avatar
blackshirt
Contact:

Post 28 Feb 2010, 12:30

sudah ..sudah..jangan bertengkar..
gini aja..
apapun OS-nya..
minumnya teh botol "coclo"..
ha..ha..ha..
halah, malah iklan..


User avatar
M3L3R
Contact:

Post 28 Feb 2010, 12:44

hahaha, aku lebih suka es dawet bro !!! hahaha


User avatar
aptfast
Contact:

Post 02 Mar 2010, 18:14

boleh donk es Dawet nya bro M3L3R... :D

opensource atau bukan, sesuaikan dg kebutuhan aja bro... :)


User avatar
ninja
Contact:

Post 02 Mar 2010, 18:54

hehehe...
:D
jadi penonton aja deh...


User avatar
offline

Post 02 Mar 2010, 18:57

krakatau wrote:hehehe...
:D
jadi penonton aja deh...

awas kena timpuk botol Bro :D


User avatar
ninja
Contact:

Post 02 Mar 2010, 19:06

yogieza wrote:
krakatau wrote:hehehe...
:D
jadi penonton aja deh...

awas kena timpuk botol Bro :D
telat bro ngasih taunya, udah kena neh :grin:


User avatar
aptfast
Contact:

Post 02 Mar 2010, 21:26

wew, kalo urusan timpuk me nimpuk, jadi inget temen yg kena timpuk botol air mineral isi air seni pas nonton bola di GBK... hehehe

OOT dikit yaks....


User avatar
bleTux
Contact:

Post 03 Mar 2010, 08:27

adch wrote:wew, kalo urusan timpuk me nimpuk, jadi inget temen yg kena timpuk botol air mineral isi air seni pas nonton bola di GBK... hehehe

OOT dikit yaks....
pasti harum dech sepanjang hari...


User avatar
MasDjo
Contact:

Post 17 Mar 2010, 18:22

Ternyata komunitas open source tidak tinggal diam
Ini tulisannya yg saya ambil dr blog Bpk. Rusmanto Maryanto sbb :
[spoiler]PERNYATAAN AOSI MENGENAI USULAN IIPA UNTUK MEMASUKAN INDONESIA KE DALAM SPECIAL 301 WATCH LIST

___________________________________

No. 005/AOSI/LOS/III/2010

Bulan Februari 2010, International Intellectual Property Association (IIPA) meminta U.S. Trade Representative (USTR) untuk memasukkan Indonesia, Brazil, India, Filipina, Thailand dan Vietnam dalam "Special 301 watch list". Alasannya antara lain adalah kebijakan pemerintah negara-negara ini untuk mendorong penggunaan Open source Software (OSS) di Institusi Pemerintah.

Pemerintah Indonesia melalui Surat Edaran Menteri PAN Nomor: SE/01/M.PAN/3/2009 menganjurkan Lembaga Pemerintah Pusat dan Daerah agar menggunakan perangkat lunak legal, yang salah satunya adalah Open Source Software atau OSS. Anjuran penggunaan Open Source Software ini dianggap mendorong mindset yang tidak menghargai kreasi Intellectual Property dan membatasi institusi pemerintah untuk memilih solusi terbaik untuk menjawab kebutuhan organisasi dan kebutuhan rakyat Indonesia.

Sehubungan dengan permintaan IIPA tersebut, Asosiasi Open Source Indonesia menyatakan sikap sbb:

� AOSI menyayangkan sikap IIPA sebagai salah satu lobby group dari Amerika Serikat, yang telah berusaha menghalangi usaha Pemerintah Indonesia yang justru ingin menghargai Hak atas Kekayaan Intelektual dengan menganjurkan penggunakan perangkat lunak Open Source untuk menggantikan perangkat lunak bajakan.

� IIPA telah berusaha mengaburkan keterbukaan dalam pilihan antara lain penggunaan OSS, dengan cara menekan setiap usaha untuk mencari alternatif dari keharusan menggunakan produk dari pihak tertentu dan menghindar untuk bersaing secara sehat.

� Berbagai pihak, terutama Open Source Initiative (OSI) secara kategorik telah menolak sikap IIPA tersebut, dan mengecam sikap tidak adil IIPA terhadap OSS, dan menyebutnya sebagai kasus mencolok mata dalam penegakan hukum yang selektif untuk menyembunyikan absurditas dari klaimnya dengan sempitnya penerapan yang dilakukan (It is a blatant case of selective enforcement, one which hides the absurdity of it's claims by the narrowness of their application).

� AOSI sepakat dengan OSI bahwa tindakan IIPA tersebut lebih didasarkan atas kepentingan tertentu, dan ketakutan atas inovasi serta model bisnis yang baru dengan berkembangnya OSS di Indonesia.

� AOSI sepakat dengan organisasi sejenis dari Amerika Serikat yaitu Open Source For America (OSFA) yang secara tegas mengecam sikap IIPA, serta menyebut tindakan IIPA tersebut tidak bertanggungjawab dan menyesatkan.

� AOSI menghimbau agar Pemerintah dapat secara tegas menetapkan posisinya terhadap tindakan IIPA tersebut, mengingat bila Indonesia dimasukkan ke dalam Special 301 Watch List, dampaknya dapat berlaku pada bidang perdagangan secara umum.

� AOSI menyerukan agar pemanfaatan OSS tetap digalakkan, karena dengan menganjurkan penggunaan OSS, Pemerintah Indonesia tidak lain sedang berusaha untuk menghormati Hak atas Kekayaan Intelektual dengan tidak membajak dan menegakkan kemandirian dalam bidang TIK, tanpa menutup persaingan dengan yang lain, meskipun IIPA telah menyudutkan Indonesia dengan menyebutkan bahwa penggunaan OSS tidak mendorong inovasi dan telah menutup kesempatan pihak tertentu untuk bersaing.

� AOSI mendukung Pemerintah Indonesia untuk terus mendorong anak bangsa dalam melakukan inovasi dan kreasi dalam bidang TIK, untuk membentuk kemandirian, membantu tumbuhnya perekonomian dan kelancaran jalannya pemerintahan yang bersih serta ikut serta dalam membangun kesejahteraan bangsa.

Jakarta, Maret 2010

Atas nama Komunitas Open Source Indonesia

Asosiasi Open Source Indonesia[/spoiler]

apapun kata orang pilihanku tetap open source .... :grin:


User avatar
ninja
Contact:

Post 17 Mar 2010, 18:45

berarti sudah jelas atasan2 yang di pemerintahan sono pun menolak sikap IIPA so kita sebagai rakyat harus mendukung...
merdeka... :D


User avatar
YaRu
Contact:

Post 21 Mar 2010, 08:16

terus melangkah,,dan mudah mudahan,,,semunya bisa pake opensource,.,.,.,.,.,.,supaya bisa lebih belajar


User avatar
YaRu
Contact:

Post 21 Mar 2010, 08:20

MasDjo wrote:Ternyata komunitas open source tidak tinggal diam
Ini tulisannya yg saya ambil dr blog Bpk. Rusmanto Maryanto sbb :
[spoiler]PERNYATAAN AOSI MENGENAI USULAN IIPA UNTUK MEMASUKAN INDONESIA KE DALAM SPECIAL 301 WATCH LIST

___________________________________

No. 005/AOSI/LOS/III/2010

Bulan Februari 2010, International Intellectual Property Association (IIPA) meminta U.S. Trade Representative (USTR) untuk memasukkan Indonesia, Brazil, India, Filipina, Thailand dan Vietnam dalam "Special 301 watch list". Alasannya antara lain adalah kebijakan pemerintah negara-negara ini untuk mendorong penggunaan Open source Software (OSS) di Institusi Pemerintah.

Pemerintah Indonesia melalui Surat Edaran Menteri PAN Nomor: SE/01/M.PAN/3/2009 menganjurkan Lembaga Pemerintah Pusat dan Daerah agar menggunakan perangkat lunak legal, yang salah satunya adalah Open Source Software atau OSS. Anjuran penggunaan Open Source Software ini dianggap mendorong mindset yang tidak menghargai kreasi Intellectual Property dan membatasi institusi pemerintah untuk memilih solusi terbaik untuk menjawab kebutuhan organisasi dan kebutuhan rakyat Indonesia.

Sehubungan dengan permintaan IIPA tersebut, Asosiasi Open Source Indonesia menyatakan sikap sbb:

� AOSI menyayangkan sikap IIPA sebagai salah satu lobby group dari Amerika Serikat, yang telah berusaha menghalangi usaha Pemerintah Indonesia yang justru ingin menghargai Hak atas Kekayaan Intelektual dengan menganjurkan penggunakan perangkat lunak Open Source untuk menggantikan perangkat lunak bajakan.

� IIPA telah berusaha mengaburkan keterbukaan dalam pilihan antara lain penggunaan OSS, dengan cara menekan setiap usaha untuk mencari alternatif dari keharusan menggunakan produk dari pihak tertentu dan menghindar untuk bersaing secara sehat.

� Berbagai pihak, terutama Open Source Initiative (OSI) secara kategorik telah menolak sikap IIPA tersebut, dan mengecam sikap tidak adil IIPA terhadap OSS, dan menyebutnya sebagai kasus mencolok mata dalam penegakan hukum yang selektif untuk menyembunyikan absurditas dari klaimnya dengan sempitnya penerapan yang dilakukan (It is a blatant case of selective enforcement, one which hides the absurdity of it's claims by the narrowness of their application).

� AOSI sepakat dengan OSI bahwa tindakan IIPA tersebut lebih didasarkan atas kepentingan tertentu, dan ketakutan atas inovasi serta model bisnis yang baru dengan berkembangnya OSS di Indonesia.

� AOSI sepakat dengan organisasi sejenis dari Amerika Serikat yaitu Open Source For America (OSFA) yang secara tegas mengecam sikap IIPA, serta menyebut tindakan IIPA tersebut tidak bertanggungjawab dan menyesatkan.

� AOSI menghimbau agar Pemerintah dapat secara tegas menetapkan posisinya terhadap tindakan IIPA tersebut, mengingat bila Indonesia dimasukkan ke dalam Special 301 Watch List, dampaknya dapat berlaku pada bidang perdagangan secara umum.

� AOSI menyerukan agar pemanfaatan OSS tetap digalakkan, karena dengan menganjurkan penggunaan OSS, Pemerintah Indonesia tidak lain sedang berusaha untuk menghormati Hak atas Kekayaan Intelektual dengan tidak membajak dan menegakkan kemandirian dalam bidang TIK, tanpa menutup persaingan dengan yang lain, meskipun IIPA telah menyudutkan Indonesia dengan menyebutkan bahwa penggunaan OSS tidak mendorong inovasi dan telah menutup kesempatan pihak tertentu untuk bersaing.

� AOSI mendukung Pemerintah Indonesia untuk terus mendorong anak bangsa dalam melakukan inovasi dan kreasi dalam bidang TIK, untuk membentuk kemandirian, membantu tumbuhnya perekonomian dan kelancaran jalannya pemerintahan yang bersih serta ikut serta dalam membangun kesejahteraan bangsa.

Jakarta, Maret 2010

Atas nama Komunitas Open Source Indonesia

Asosiasi Open Source Indonesia[/spoiler]

apapun kata orang pilihanku tetap open source .... :grin:
betul bro,.,.,.,.tapi klo harga satuan software berlisence aga dapat dikantong mungkin pemerintah ndak bakalan ngasih umuman seperti ini,,,betul betul mereka menjajah lagi negara kecil tapi tidak dalam bentuk fisik


Post Reply

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 50 guests